30 Jun 2010
Bicara dengan Bahasa Tubuh

Meski hujan mengguyur Jakarta sejak pagi, aula lantai 7 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT) Trisakti, Cipinang, Rabu (16/6) lalu tetap dipenuhi para mahasiswi yang ingin mendaftar sebagai peserta Wajah Femina 2010. Acara itu juga diisi talkshow public speaking dari Dave Hendrik, pembicara dari Talk Inc.
“Action speaks louder than words. So it’s all about body language,” ujar Dave memetik ungkapan asing yang terkenal. Hal ini terbukti melalui survei yang mengungkap bahwa hanya 7% orang yang merasakan dampak komunikasi melalui kata-kata. Sementara itu, 55% orang setuju bahwa bahasa tubuh jauh lebih berdampak dalam proses komunikasi. Sayangnya, menurut Dave, kebanyakan orang kurang menguasai komunikasi non-verbal dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah dan mata.
Profesi sebagai model tentu mengandalkan kemampuan berekspresi dengan tubuh dan wajah. Namun, wakil ketua panitia Pemilihan Wajah Femina, Dewi Assa’ad menekankan, penilaian peserta tidak hanya dilihat dari penampilan secara keseluruhan. “Jangan khawatir kalau Anda tidak terlalu tinggi. Tim juri femina punya mata yang jeli terhadap fitur-fitur istimewa seseorang,” ujar Dewi. Hal ini terbukti pada terpilihnya Shahnaz Mariela sebagai pemenang I Wajah Femina 2009. Dibanding finalis lainnya, tubuh Shahnaz tergolong mungil. Tingginya hanya 165cm dan berambut cepak.
“Saya tadinya tertutup, dan tidak terbiasa berada di bawah spotlight. Mengikuti ajang pemilihan Wajah Femina menjadi pembuktian kalau saya bisa meraih prestasi di dunia hiburan,” ujar Shahnaz yang sedang menjajaki karier sebagai presenter berita. Pagi itu ia berbagi pengalamannya bersama Christine Videlina, finalis Wajah Femina 2009 yang sedang menyelesaikan skripsinya di STMT Trisakti.
PSS